Minggu, 27 Februari 2011

donggala

Posted by 17+ On 21.39

Pantai wisata Tanjung Karang, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, tiap hari tergerus abrasi akibat kehadiran sejumlah perumahan permanen di bibir pantai tersebut. Abrasi ini dinilai sudah kian parah, sehingga mengancam kelestarian lingkungan sekitar pantai itu.

Koordinator Forum Peduli Pantai dan Laut (FPPL) Kabupaten Donggala, Patrisia Lamarauna Minggu (24/1) mengatakan sejak adanya bangunan permanen milik pengusaha asal Donggala dan Palu awal 2009, bibir Pantai Tanjung Karang mulai terkena abrasi.

Patrisia menyatakan bila terjadi air laut pasang, tidak terlihat lagi kemilau hamparan pasir putih. Yang ada hanya air laut yang mulai tercemar oleh berbagai sampah dan limbah dari pembangunan rumah permanen, seperti sisa kaleng cat bangunan yang dibuang di laut.

Lebar pantai sebelum adanya bangunan permanen itu sekitar 15 meter. Namun sembilan bulan kemudian sejak bangunan permanen dibangun Februari 2009, terjadi pengikisan pantai satu setengah meter setiap bulannya.

“Pantai Tanjung Karang saat ini, hampir tidak dapat digunakan lagi sebagai ruang publik oleh masyarakat lokal maupun oleh para wisatawan, karena sudah terkikis abrasi,” gundahnya.

Ia menilai fungsi pelayanan publik yang seharusnya dilakukan Pemkab Donggala mengenai pelestarian lingkungan, perlindungan biota laut dan pengembangan dunia kepariwisataan, hampir tidak dapat diandalkan Laporan yang telah diadukan tidak pernah ditindaklajuti instansi terkait.

Untuk mengantisipasi dampak abrasi pantai, FPPL Donggala yang merupakan gabungan dari sejumlah organisasi, yakni Perjuangan Masyarakat Pesisir, Yayasan Bone Bula, Yayasan Pudjananti Indonesia, Yayasan Kampung Halaman, Prince Jhon Dive Resource, Walhi Sulteng, ROA Sulteng, Perkumpulan Evergreen Indonesia serta Rumah Baca Pusentasi Donggala telah menyurati ke Departemen Perikanan dan Kelautan agar meninjau lokasi kerusakan pantai dan mengambil langkah konkrit berupa pembongkaran bangunan di Tanjung Karang. Termasuk meninjau pembangunan sarana umum yang tidak memenuhi standar analisa mengenai dampak lingkungan.

Pantai Tanjung Karang yang berjarak sekitar 30 km dari Palu ini termasuk pilihan favorit untuk rekreasi warga Palu. Sedikitnya 200 kendaraan roda empat dan dua masuk-keluar di objek wisata Tanjung Karang setiap hari libur. Angka ini meningkat pesat setelah Pemprov Sulteng mencanangkan lima hari kerja sejak pertengahan April 2007.

Untuk memberikan pelayanan bagi para wisatawan, penduduk setempat membangun dan menyewakan puluhan penginapan sederhana, yang terbuat dari kayu dan beratap daun sagu. Tarifnya relatif murah, antara Rp100 ribu hingga Rp300 ribu sehari-semalam untuk masing-masing “cottage” yang memiliki satu kamar tidur, satu ruang terbuka sebagai teras, dan satu kamar mandi. Tarif ini tidak termasuk makan dan minum.

donggala

Posted by 17+ On 21.35

Pantai wisata Tanjung Karang, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, tiap hari tergerus abrasi akibat kehadiran sejumlah perumahan permanen di bibir pantai tersebut. Abrasi ini dinilai sudah kian parah, sehingga mengancam kelestarian lingkungan sekitar pantai itu.

Koordinator Forum Peduli Pantai dan Laut (FPPL) Kabupaten Donggala, Patrisia Lamarauna Minggu (24/1) mengatakan sejak adanya bangunan permanen milik pengusaha asal Donggala dan Palu awal 2009, bibir Pantai Tanjung Karang mulai terkena abrasi.

Patrisia menyatakan bila terjadi air laut pasang, tidak terlihat lagi kemilau hamparan pasir putih. Yang ada hanya air laut yang mulai tercemar oleh berbagai sampah dan limbah dari pembangunan rumah permanen, seperti sisa kaleng cat bangunan yang dibuang di laut.

kaledo

Posted by 17+ On 00.58

menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, jika Anda belum mencicipi kaledo. Masakan khas Sulawesi Tengah ini termasuk jenis masakan berkuah bening agak kekuning-kuningan dengan rasa yang sangat khas, yakni asem gurih dan pedas. Pada awalnya, masakan ini hanya berbahan baku tulang kaki sapi dengan sedikit dagingnya. Namun, karena penjual kaledo semakin banyak, sehingga tulang kaki sapi semakin sulit didapatkan. Untuk menggantikan tulang kaki tersebut, maka tulang belakang sapi pun disertakan sebagai tambahan bahan utama.

Tidak ada catatan resmi mengenai asal-usul makanan ini. Menurut cerita, konon di wilayah Sulawesi Tengah, ada seorang dermawan yang memotong sapi dan membagi-membagikannya kepada penduduk sekitar. Orang Jawa yang pertama datang mendapat daging sapi yang empuk dan kemudian dibuat bakso. Orang Makassar yang datang berikutnya mendapat bagian jeroan (isi perut), kemudian dimasak coto Makassar. Sementara orang Kaili (suku asli Donggala) yang datang belakangan hanya memperoleh tulang-tulang kaki. Oleh karena tidak ingin mengecewakan keluarganya yang menunggu di rumah, maka tulang-tulang dengan sedikit daging yang masih menempel pun dibawanya pulang ke rumah sebagai obat kecewa. Tulang-tulang tersebut kemudian mereka masak dan jadilah kaledo.

Kaledo banyak dihidangkan oleh masyarakat Sulawesi Tengah pada saat hari lebaran (Idul Fitri maupun Idul Adha) yang disajikan dengan burasa (beras diberi air santan dan dibungkus daun pisang, lalu direbus). Selain itu, makanan khas ini juga sangat cocok disantap bersama nasih putih, singkong atau jagung rebus. Bagi yang mengidap tekanan darah tinggi dan asam urat, sebaiknya lebih berhati-hati. Jangan sampai makan kaledo melebihi porsi yang semestinya.
A. Keistimewaan

Kekhasan kaledo ini terletak pada penggunaan bumbu asam Jawa. Asam Jawa yang digunakan adalah asam yang betul-betul masih muda. Untuk memperoleh konsentrat asam, kulit asam muda digerus bersama dagingnya. Jika menggunakan asam yang sudah tua, kuah kaledo tersebut akan berwarna kuning dan rasanya cenderung lebih manis.

Selain itu, masakan kaledo ini menjadi khas, karena bumbu pelengkapnya, seperti: bawang goreng khas Palu (renyah, tidak mudah lembek, dan tahan lama), sambal, dan jeruk nipis. Bagi mereka yang suka pedas, dapat menambahkan sambal yang sudah ditumbuk kasar. Sedangkan bagi yang suka kecut, dapat menambahkan perasan jeruk nipis.

Sebenarnya, yang menarik dari makanan ini, yaitu pada cara makannya. Daging yang menempel di tulang dan sumsum yang terdapat di dalam rongga tulang tersebut sangat lezat untuk dinikmati. Oleh karena itu, Anda jangan terkejut dan heran ketika melihat cara penyajian masakan yang satu ini. Biasanya disediakan garpu, pisau, sumpit ataupun pipet, yang berfungsi untuk mengeluarkan sumsum dari rongga-rongga tulang sapi tersebut.
B. Lokasi

Makanan khas Palu ini merupakan menu utama warung-warung makan di Sulawesi Tengah. Ada beberapa warung makan yang khusus menyajikan makanan ini, seperti warung makan yang berlokasi di ruas Jalan Diponegoro, Kota Palu; di depan pintu masuk Wisata Pantai Tumbelaka (3 km dari Kota Palu); dan di depan Masjid Baabus Salaam, Loliege, Jl. Raya Palu – Donggala (3 km dari Kota Palu). Selain di Kota Palu dan Donggala, makanan ini juga dapat dinikmati di warung-warung makan di Kabupaten Poso. Untuk menjangaku warung-warung tersebut, para wisatawan dapat menumpang angkutan kota berupa bus kota, taksi dan ojek.
C. Harga

Harga kaledo berkisar antara Rp. 25.000,00 – Rp. 30.000,00 perporsi. (Maret 2008).

kaledo

Posted by 17+ On 00.47

menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, jika Anda belum mencicipi kaledo. Masakan khas Sulawesi Tengah ini termasuk jenis masakan berkuah bening agak kekuning-kuningan dengan rasa yang sangat khas, yakni asem gurih dan pedas. Pada awalnya, masakan ini hanya berbahan baku tulang kaki sapi dengan sedikit dagingnya. Namun, karena penjual kaledo semakin banyak, sehingga tulang kaki sapi semakin sulit didapatkan. Untuk menggantikan tulang kaki tersebut, maka tulang belakang sapi pun disertakan sebagai tambahan bahan utama.

Tidak ada catatan resmi mengenai asal-usul makanan ini. Menurut cerita, konon di wilayah Sulawesi Tengah, ada seorang dermawan yang memotong sapi dan membagi-membagikannya kepada penduduk sekitar. Orang Jawa yang pertama datang mendapat daging sapi yang empuk dan kemudian dibuat bakso. Orang Makassar yang datang berikutnya mendapat bagian jeroan (isi perut), kemudian dimasak coto Makassar. Sementara orang Kaili (suku asli Donggala) yang datang belakangan hanya memperoleh tulang-tulang kaki. Oleh karena tidak ingin mengecewakan keluarganya yang menunggu di rumah, maka tulang-tulang dengan sedikit daging yang masih menempel pun dibawanya pulang ke rumah sebagai obat kecewa. Tulang-tulang tersebut kemudian mereka masak dan jadilah kaledo.

Kaledo banyak dihidangkan oleh masyarakat Sulawesi Tengah pada saat hari lebaran (Idul Fitri maupun Idul Adha) yang disajikan dengan burasa (beras diberi air santan dan dibungkus daun pisang, lalu direbus). Selain itu, makanan khas ini juga sangat cocok disantap bersama nasih putih, singkong atau jagung rebus. Bagi yang mengidap tekanan darah tinggi dan asam urat, sebaiknya lebih berhati-hati. Jangan sampai makan kaledo melebihi porsi yang semestinya.
A. Keistimewaan

Kekhasan kaledo ini terletak pada penggunaan bumbu asam Jawa. Asam Jawa yang digunakan adalah asam yang betul-betul masih muda. Untuk memperoleh konsentrat asam, kulit asam muda digerus bersama dagingnya. Jika menggunakan asam yang sudah tua, kuah kaledo tersebut akan berwarna kuning dan rasanya cenderung lebih manis.

Selain itu, masakan kaledo ini menjadi khas, karena bumbu pelengkapnya, seperti: bawang goreng khas Palu (renyah, tidak mudah lembek, dan tahan lama), sambal, dan jeruk nipis. Bagi mereka yang suka pedas, dapat menambahkan sambal yang sudah ditumbuk kasar. Sedangkan bagi yang suka kecut, dapat menambahkan perasan jeruk nipis.

Sebenarnya, yang menarik dari makanan ini, yaitu pada cara makannya. Daging yang menempel di tulang dan sumsum yang terdapat di dalam rongga tulang tersebut sangat lezat untuk dinikmati. Oleh karena itu, Anda jangan terkejut dan heran ketika melihat cara penyajian masakan yang satu ini. Biasanya disediakan garpu, pisau, sumpit ataupun pipet, yang berfungsi untuk mengeluarkan sumsum dari rongga-rongga tulang sapi tersebut.
B. Lokasi

Makanan khas Palu ini merupakan menu utama warung-warung makan di Sulawesi Tengah. Ada beberapa warung makan yang khusus menyajikan makanan ini, seperti warung makan yang berlokasi di ruas Jalan Diponegoro, Kota Palu; di depan pintu masuk Wisata Pantai Tumbelaka (3 km dari Kota Palu); dan di depan Masjid Baabus Salaam, Loliege, Jl. Raya Palu – Donggala (3 km dari Kota Palu). Selain di Kota Palu dan Donggala, makanan ini juga dapat dinikmati di warung-warung makan di Kabupaten Poso. Untuk menjangaku warung-warung tersebut, para wisatawan dapat menumpang angkutan kota berupa bus kota, taksi dan ojek.
C. Harga

Harga kaledo berkisar antara Rp. 25.000,00 – Rp. 30.000,00 perporsi. (Maret 2008).

kaledo

Posted by 17+ On 00.45

menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, jika Anda belum mencicipi kaledo. Masakan khas Sulawesi Tengah ini termasuk jenis masakan berkuah bening agak kekuning-kuningan dengan rasa yang sangat khas, yakni asem gurih dan pedas. Pada awalnya, masakan ini hanya berbahan baku tulang kaki sapi dengan sedikit dagingnya. Namun, karena penjual kaledo semakin banyak, sehingga tulang kaki sapi semakin sulit didapatkan. Untuk menggantikan tulang kaki tersebut, maka tulang belakang sapi pun disertakan sebagai tambahan bahan utama.

Tidak ada catatan resmi mengenai asal-usul makanan ini. Menurut cerita, konon di wilayah Sulawesi Tengah, ada seorang dermawan yang memotong sapi dan membagi-membagikannya kepada penduduk sekitar. Orang Jawa yang pertama datang mendapat daging sapi yang empuk dan kemudian dibuat bakso. Orang Makassar yang datang berikutnya mendapat bagian jeroan (isi perut), kemudian dimasak coto Makassar. Sementara orang Kaili (suku asli Donggala) yang datang belakangan hanya memperoleh tulang-tulang kaki. Oleh karena tidak ingin mengecewakan keluarganya yang menunggu di rumah, maka tulang-tulang dengan sedikit daging yang masih menempel pun dibawanya pulang ke rumah sebagai obat kecewa. Tulang-tulang tersebut kemudian mereka masak dan jadilah kaledo.

Kaledo banyak dihidangkan oleh masyarakat Sulawesi Tengah pada saat hari lebaran (Idul Fitri maupun Idul Adha) yang disajikan dengan burasa (beras diberi air santan dan dibungkus daun pisang, lalu direbus). Selain itu, makanan khas ini juga sangat cocok disantap bersama nasih putih, singkong atau jagung rebus. Bagi yang mengidap tekanan darah tinggi dan asam urat, sebaiknya lebih berhati-hati. Jangan sampai makan kaledo melebihi porsi yang semestinya.
A. Keistimewaan

Kekhasan kaledo ini terletak pada penggunaan bumbu asam Jawa. Asam Jawa yang digunakan adalah asam yang betul-betul masih muda. Untuk memperoleh konsentrat asam, kulit asam muda digerus bersama dagingnya. Jika menggunakan asam yang sudah tua, kuah kaledo tersebut akan berwarna kuning dan rasanya cenderung lebih manis.

Selain itu, masakan kaledo ini menjadi khas, karena bumbu pelengkapnya, seperti: bawang goreng khas Palu (renyah, tidak mudah lembek, dan tahan lama), sambal, dan jeruk nipis. Bagi mereka yang suka pedas, dapat menambahkan sambal yang sudah ditumbuk kasar. Sedangkan bagi yang suka kecut, dapat menambahkan perasan jeruk nipis.

Sebenarnya, yang menarik dari makanan ini, yaitu pada cara makannya. Daging yang menempel di tulang dan sumsum yang terdapat di dalam rongga tulang tersebut sangat lezat untuk dinikmati. Oleh karena itu, Anda jangan terkejut dan heran ketika melihat cara penyajian masakan yang satu ini. Biasanya disediakan garpu, pisau, sumpit ataupun pipet, yang berfungsi untuk mengeluarkan sumsum dari rongga-rongga tulang sapi tersebut.
B. Lokasi

Makanan khas Palu ini merupakan menu utama warung-warung makan di Sulawesi Tengah. Ada beberapa warung makan yang khusus menyajikan makanan ini, seperti warung makan yang berlokasi di ruas Jalan Diponegoro, Kota Palu; di depan pintu masuk Wisata Pantai Tumbelaka (3 km dari Kota Palu); dan di depan Masjid Baabus Salaam, Loliege, Jl. Raya Palu – Donggala (3 km dari Kota Palu). Selain di Kota Palu dan Donggala, makanan ini juga dapat dinikmati di warung-warung makan di Kabupaten Poso. Untuk menjangaku warung-warung tersebut, para wisatawan dapat menumpang angkutan kota berupa bus kota, taksi dan ojek.
C. Harga

Harga kaledo berkisar antara Rp. 25.000,00 – Rp. 30.000,00 perporsi. (Maret 2008).

kota palu

Posted by 17+ On 00.31

Palu adalah sebuah kota sekaligus merupakan ibu kota provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Palu terletak sekitar 1.650 km di sebelah timur laut Jakarta. Koordinatnya adalah 0°54′ LS 119°50′ BT. Penduduknya berjumlah 282.500 jiwa (2005).



Bersama dengan Poso, Palu telah beberapa kali menjadi target dalam konflik yang sedang berlangsung di Sulawesi. Pada November 2005, sepasang warga beragama Kristen ditembak dan dicederai di kota ini. Sebuah bom juga meledak di sebuah pasar yang khusus menjual daging babi pada 31 Desember 2005 dan menewaskan delapan orang serta mencederai 45 lainnya.


Daftar Nama-nama Kecamatan, Kelurahan dan kodepos Se-kota Palu Sulawesi Tengah, semoga bisa membantu bagi anda yang membutuhkannya, silahkan baca selengkapnya untuk mendapatkan daftar tersebut dibawah ini:
Kecamatan Palu Timur
Kelurahan : Lasoani, Kode Pos 94116
Kelurahan : Talise, Kodepos 94118
Kelurahan : Tondo, Kodepos 94119
Kelurahan : Besusu Barat, Kodepos 94111
Kelurahan : Besusu Tengah, Kodepos 94111
Kelurahan : Besusu Timur, Kodepos 94111
Kelurahan : Poboya, Kodepos 94115

Kecamatan Palu Barat
Kelurahan : Duyu, Kodepos 94225
Kelurahan : Donggala Kodi, Kodepos 94226
Kelurahan : Kabonena, Kodepos 94227
Kelurahan : Kamonji, Kodepos 94223
Kelurahan : Balaroa, Kodepos 94226
Kelurahan : Tipo, Kodepos 94228
Kelurahan : Baru, Kodepos 94221
Kelurahan : Bayaoge, Kodepos 94223
Kelurahan : Lere, Kodepos 94221
Kelurahan : Buluri, Kodepos 94228
Kelurahan : Nunu, Kodepos 94222
Kelurahan : Silae, Kodepos 94227
Kelurahan : Ujuna, Kodepos 94222
Kelurahan : Watusampu, Kodepos 94229


Kecamatan Palu Selatan
Kelurahan : Kawatuna, Kodepos 94233
Kelurahan : Tanamodindi, Kodepos 94234
Kelurahan : Tatura, Kodepos 94236
Kelurahan : Tavanjuka, Kodepos 94237
Kelurahan : Birobuli, Kodepos 94231
Kelurahan : Lolu Selatan, Kodepos 94235
Kelurahan : Lolu Utara, Kodepos 94235
Kelurahan : Palupi, Kodepos 94238
Kelurahan : Pengawu, Kodepos 94239
Kelurahan : Petobo, Kodepos 94232

Kecamatan Palu Utara
Kelurahan : Kayumalue Ngapa, Kodepos 94146
Kelurahan : Kayumalue Pajeko, Kodepos 94145
Kelurahan : Taipa, Kodepos 94147
Kelurahan : Baiya, Kodepos 94142
Kelurahan : Lambara, Kodepos 94141
Kelurahan : Mpanau, Kodepos 94144
Kelurahan : Pantoloan, Kodepos 94143

kota palu

Posted by 17+ On 00.28

Palu adalah sebuah kota sekaligus merupakan ibu kota provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Palu terletak sekitar 1.650 km di sebelah timur laut Jakarta. Koordinatnya adalah 0°54′ LS 119°50′ BT. Penduduknya berjumlah 282.500 jiwa (2005).

Bersama dengan Poso, Palu telah beberapa kali menjadi target dalam konflik yang sedang berlangsung di Sulawesi. Pada November 2005, sepasang warga beragama Kristen ditembak dan dicederai di kota ini. Sebuah bom juga meledak di sebuah pasar yang khusus menjual daging babi pada 31 Desember 2005 dan menewaskan delapan orang serta mencederai 45 lainnya.